Jumat, 08 Januari 2016

Perubahan Muka Laut di Asia Tenggara


             Region Asia Selatan dan Tenggara memiliki bentang lahan  yang unik akibat klimatik terutama pada Periode Kuarter (Verstappen, 1994). Periode waktu geologi ini secara khusus dikaji pada tulisan Verstappen (1994), Hope (2007), bahkan Holosen banyak diulas oleh Tjia dan Mastura (2013) dan Horton et.al (2005).    
 Fluktuasi muka laut di Huon Peninsula, Papua New Guinea berdasarkan pertanggalan dengan metode uranium-series teras terumbu karang oleh Champpell dan Shackleton (1986), memberikan informasi tingkat kenaikan muka air rata-rata. Suhu tinggi berkorelasi dengan tinggi muka laut dan oksigen rendah (rasio 18/oksigen-16/oksigen).  Hasilnya memperlihatkan fluktuasi tinggi rendah antara dua puncak muka laut interglasial (8000 dan 125.000 BP).
 Siddhall et.al (2006, dalam Tjia dan Mastura, 2013) memperlihatkan fluktuasi muka laut lebih jauh di 800.000 BP.  Dari 800.000 BP sampai dengan sekarang telah terjadi 9 kali muka laut naik dan 8 kali turun. Hasil dari Siddhall memiliki pola yang sama dengan Champpell dan Shackleton (1986) pada saat muka laut naik maupun turun di periode yang diutarakan Chambell (135.000 BP – 0). Keduanya sama-sama menunjukkan fluktuasi muka laut di antara kedua puncak interglasial (125.000 dan 6000 BP), yakni muka laut terletak sekitar +6 m di atas datum dan masa glasial (18.000 BP dan 135.000 BP) dengan muka air berada pada posisi -130 m.
Kajian tentang posisi muka laut Kuarter mula-mula dilakukan oleh Scrivenor (1931, dalam Tjia dan Mastura, 2013), yang berfluktuasi antara -100 m di bawah datum dan naik pada ketinggian +15 m. Namun Haile (1975) mengoreksi kalau ketinggian muka laut tertinggi pada Kuarter tidak lebih dari +6 m.  Apabila terdapat bukti-bukti lebih dari +6 m, maka seharusnya merupakan hasil dari pengangkatan tektonik. Pro-kontra ini terus berlangsung sampai didapatkan di Semenajung Malaysia dan Thailand pada muka air Holosen mencapai ketinggian 5 m (Tjia dan Mastura, 2013).  Ini dikarenakan Semenanjung Malaysia dan Thailand terletak di daratan Sunda yang tektoniknya stabil (Tjia, 1992).
Kurva konstruksi muka laut di Semenanjung Malaysia dari pertanggalan (dating) indikator garis pantai secara radiometri oleh Tjia dan Fujii (1992, dalam Tjia dan Mastura, 2013, 2013b, 1992) memperlihatkan tiga luasan zona yang berisi sebaran data-data berfluktuasi tinggi dan rendah. Perubahan muka laut mulai pada 6000 BP, kemudian naik mencapai puncak muka laut pada 4.500-3.600 BP setinggi +4,5 di atas muka laut sekarang.  Kemudian tinggi muka laut menengah bertahan selama 600-700 tahun hingga 2.200 BP mencapai +2,8 m. Puncak muka laut rendah terjadi 3000 BP dan 1000 BP.  Muka air sekarang lebih rendah daripada puncak sewaktu pertengahan, yakni sekitar 2 m di atas muka air rata-rata.  Serupa dengan publikasi oleh Geyh et.al (1979) dan Streif (1979) dalam Tjia dan Mastura (2013) sebagai hasil pertanggalan indikator garis pantai Selat Malaka pada Post Last Glacial (Holosen), muka air mulai naik pada awal Holosen (9840 ±300 BP)  -53,7 m di bawah datum. Awal dari Holosen kenaikan air laut sekitar 15 mm/tahun.  Kenaikan ini melewati muka laut sekarang sekitar 6200 BP.  Mencapai puncaknya sekitar 4000 BP, mencapai +6 - +7 m lebih tinggi daripada muka laut sekarang.  Kemudian muka air turun mencapai muka air sekarang kira-kira 1000 BP.
Rentang waktu Holosen dari publikasi Horton et.al (2005), minimum muka laut (-22,15 ± 0,55 m) terjadi pada 9.700-9.250 BP.  Pada mid Holosen 4850-4450 BP menjadi 4,87±0,57m. Kenaikannya setinggi rata-rata 5,5 mm/tahun dan penurunan muka laut secara stabil -1,1 mm/tahun. Model ini sama seperti yang dikemukaan oleh Geyh et.al (1979, dalam Tjia dan Mastura, 2013). Sedangkan dibandingkan Tjia dan Mastura (2013) berbeda karena tanpa adanya bukti terjadinya puncak muka laut kedua.  Walaupun Horton et.al (2005) bekerja dengan sampel yang terbatas, kondisi di atas bukan karena kontaminasi sampel atau eror. Perbedaan penentuan variasi dingin/panas dan basah/kering memperlihatkan perbedaan spasial sesungguhnya (regional individuality). Tidak dibenarkan mengekstrapolasi data untuk daerah yang lain guna mengeneralkan kondisi paleoklimatik (Vastappen,1994).  
Gambar di bawah ini adalah plot hasil radiometrik muka laut indikator di Semenanjung Malaysia dari berbagai sumber yang dihimpun oleh Tjia dan Mastura (2013). Setelah Holosen menggunakan penamaan dari peristiwa aktivitas Matahari.

 
 
Gambar  Fluktuasi muka laut Semenanjung Malaysia.  Dibangun dari data umur radiokarbon di Lokasi Langkawi, Perlish-Kedah, Penang-Pangkor-Perak-Selangor, Negeri Sembilan-Malacca, Johor-Pulau Tioman, Pahang-Trengganu.  Berbagai satuan muka laut disamakan menjadi aht (above high tide).
Sumber. Tjia H.D dan Mastura (2013)


Di Indonesia sendiri muka laut juga mengalami kenaikan dan penurunan.  Tabel di bawah memperlihatkan perubahan muka laut dari Cretaceous akhir sampai Holosen yang muka lautnya hampir sama dengan posisi sekarang.

Tabel . Perubahan muka laut di Indonesia
Tahun yang lalu
Muka laut terhadap posisi sekarang   (m)
85-55   Ma
350
Sepanjang waktu tinggi  (Cretaceous akhir-awal Tertiary)
29  Ma
-250
Sepanjang waktu rendah  (akhir  Oligocene)
13 Ma
220
(mid-Miocene)
6.6  Ma
-220
(Pliocene)
5.2  Ma
140
(Pliocene)
3.0  Ma

Eustatic rendah
2.4  Ma

Eustatic rendah
1.0  Ma
-25
Diikuti dengan kembalinya ke level sekarang (Pleistocene)
900.000
.-24 - -40

750.000
-15

700.000
+
Umumnya muka air naik
680.000
-20

600.000
-12
Diikuti dengan kembalinya ke level sekarang



440.000
+
Umumnya muka air naik
340.000
+
Umumnya muka air naik
220.000
+
Umumnya muka air naik
200.000
-12

170.000
-200
Riss Glacial
140.000
.-50 - -150

120.000
7
Umumnya muka air naik
105.000
-14

84.000
-20

20-30.000
?
Umumnya muka air naik
18.750
.-130 - -175
Wurm/Wisconsin Glacial
16.900
-130

14.500
-19

14.000
?
Muka air naik
6000

Mencapai muka air sekarang dengan osilasi minor setelah +3.5 m (Holocene)

Sumber. Chappell and Veeh 1978; Fortuin and de Smet 1991; Hutchison 1992; Jongsma 1970; Pirazzoli Sources: Chappell and Veeh 1978; Fortuin and de Smet 1991; Hutchison 1992; Jongsma 1970; Pirazzoli  dalam Monk, dkk (1997)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar