Region
Asia Selatan dan Tenggara memiliki bentang lahan yang unik akibat klimatik terutama pada
Periode Kuarter (Verstappen, 1994). Periode waktu geologi ini secara khusus
dikaji pada tulisan Verstappen (1994), Hope (2007), bahkan Holosen banyak
diulas oleh Tjia dan Mastura (2013) dan Horton et.al (2005).
Fluktuasi
muka laut di Huon Peninsula, Papua New Guinea berdasarkan pertanggalan dengan
metode uranium-series teras terumbu karang oleh Champpell dan Shackleton
(1986), memberikan informasi tingkat kenaikan muka air rata-rata. Suhu tinggi
berkorelasi dengan tinggi muka laut dan oksigen rendah (rasio
18/oksigen-16/oksigen). Hasilnya
memperlihatkan fluktuasi tinggi rendah antara dua puncak muka laut interglasial
(8000 dan 125.000 BP).
Siddhall
et.al (2006, dalam Tjia dan Mastura, 2013) memperlihatkan fluktuasi muka laut
lebih jauh di 800.000 BP. Dari 800.000
BP sampai dengan sekarang telah terjadi 9 kali muka laut naik dan 8 kali turun.
Hasil dari Siddhall memiliki pola yang sama dengan Champpell dan Shackleton
(1986) pada saat muka laut naik maupun turun di periode yang diutarakan
Chambell (135.000 BP – 0). Keduanya sama-sama menunjukkan fluktuasi muka laut di
antara kedua puncak interglasial (125.000 dan 6000 BP), yakni muka laut
terletak sekitar +6 m di atas datum dan masa glasial (18.000 BP dan 135.000 BP)
dengan muka air berada pada posisi -130 m.
Kajian
tentang posisi muka laut Kuarter mula-mula dilakukan oleh Scrivenor (1931,
dalam Tjia dan Mastura, 2013), yang berfluktuasi antara -100 m di bawah datum
dan naik pada ketinggian +15 m. Namun Haile (1975) mengoreksi kalau ketinggian
muka laut tertinggi pada Kuarter tidak lebih dari +6 m. Apabila terdapat bukti-bukti lebih dari +6 m,
maka seharusnya merupakan hasil dari pengangkatan tektonik. Pro-kontra ini
terus berlangsung sampai didapatkan di Semenajung Malaysia dan Thailand pada
muka air Holosen mencapai ketinggian 5 m (Tjia dan Mastura, 2013). Ini dikarenakan Semenanjung Malaysia dan
Thailand terletak di daratan Sunda yang tektoniknya stabil (Tjia, 1992).
Kurva
konstruksi muka laut di Semenanjung Malaysia dari pertanggalan (dating) indikator garis pantai secara
radiometri oleh Tjia dan Fujii (1992, dalam Tjia dan Mastura, 2013, 2013b, 1992)
memperlihatkan tiga luasan zona yang berisi sebaran data-data berfluktuasi
tinggi dan rendah. Perubahan muka laut mulai pada 6000 BP, kemudian naik
mencapai puncak muka laut pada 4.500-3.600 BP setinggi +4,5 di atas muka laut
sekarang. Kemudian tinggi muka laut menengah
bertahan selama 600-700 tahun hingga 2.200 BP mencapai +2,8 m. Puncak muka laut
rendah terjadi 3000 BP dan 1000 BP. Muka
air sekarang lebih rendah daripada puncak sewaktu pertengahan, yakni sekitar 2
m di atas muka air rata-rata. Serupa dengan
publikasi oleh Geyh et.al (1979) dan Streif (1979) dalam Tjia dan Mastura
(2013) sebagai hasil pertanggalan indikator garis pantai Selat Malaka pada Post
Last Glacial (Holosen), muka air mulai naik pada awal Holosen (9840 ±300 BP) -53,7 m di bawah datum. Awal dari Holosen
kenaikan air laut sekitar 15 mm/tahun.
Kenaikan ini melewati muka laut sekarang sekitar 6200 BP. Mencapai puncaknya sekitar 4000 BP, mencapai
+6 - +7 m lebih tinggi daripada muka laut sekarang. Kemudian muka air turun mencapai muka air sekarang
kira-kira 1000 BP.
Rentang
waktu Holosen dari publikasi Horton et.al (2005), minimum muka laut (-22,15 ± 0,55
m) terjadi pada 9.700-9.250 BP. Pada mid
Holosen 4850-4450 BP menjadi 4,87±0,57m. Kenaikannya setinggi rata-rata 5,5
mm/tahun dan penurunan muka laut secara stabil -1,1 mm/tahun. Model ini sama
seperti yang dikemukaan oleh Geyh et.al (1979, dalam Tjia dan Mastura, 2013).
Sedangkan dibandingkan Tjia dan Mastura (2013) berbeda karena tanpa adanya
bukti terjadinya puncak muka laut kedua.
Walaupun Horton et.al (2005) bekerja dengan sampel yang terbatas,
kondisi di atas bukan karena kontaminasi sampel atau eror. Perbedaan penentuan
variasi dingin/panas dan basah/kering memperlihatkan perbedaan spasial
sesungguhnya (regional individuality).
Tidak dibenarkan mengekstrapolasi data untuk daerah yang lain guna
mengeneralkan kondisi paleoklimatik (Vastappen,1994).
Gambar
di bawah ini adalah plot hasil radiometrik muka laut indikator di Semenanjung
Malaysia dari berbagai sumber yang dihimpun oleh Tjia dan Mastura (2013). Setelah
Holosen menggunakan penamaan dari peristiwa aktivitas Matahari.
Gambar Fluktuasi
muka laut Semenanjung Malaysia. Dibangun
dari data umur radiokarbon di Lokasi Langkawi, Perlish-Kedah,
Penang-Pangkor-Perak-Selangor, Negeri Sembilan-Malacca, Johor-Pulau Tioman,
Pahang-Trengganu. Berbagai satuan muka
laut disamakan menjadi aht (above high
tide).
Sumber. Tjia H.D dan Mastura (2013)
Di
Indonesia sendiri muka laut juga mengalami kenaikan dan penurunan. Tabel di bawah memperlihatkan perubahan muka laut
dari Cretaceous akhir sampai Holosen yang muka lautnya hampir sama dengan
posisi sekarang.
Tabel . Perubahan muka
laut di Indonesia
|
Tahun yang lalu
|
Muka laut terhadap posisi
sekarang (m)
|
|
85-55 Ma
|
350
|
Sepanjang
waktu tinggi (Cretaceous akhir-awal Tertiary)
|
|
29 Ma
|
-250
|
Sepanjang
waktu rendah (akhir Oligocene)
|
|
13
Ma
|
220
|
(mid-Miocene)
|
|
6.6 Ma
|
-220
|
(Pliocene)
|
|
5.2 Ma
|
140
|
(Pliocene)
|
|
3.0 Ma
|
|
Eustatic
rendah
|
|
2.4 Ma
|
|
Eustatic
rendah
|
|
1.0 Ma
|
-25
|
Diikuti
dengan kembalinya ke level sekarang (Pleistocene)
|
|
900.000
|
.-24 - -40
|
|
|
750.000
|
-15
|
|
|
700.000
|
+
|
Umumnya
muka air naik
|
|
680.000
|
-20
|
|
|
600.000
|
-12
|
Diikuti
dengan kembalinya ke level sekarang
|
|
|
|
|
440.000
|
+
|
Umumnya
muka air naik
|
|
340.000
|
+
|
Umumnya
muka air naik
|
|
220.000
|
+
|
Umumnya
muka air naik
|
|
200.000
|
-12
|
|
|
170.000
|
-200
|
Riss
Glacial
|
|
140.000
|
.-50 - -150
|
|
|
120.000
|
7
|
Umumnya
muka air naik
|
|
105.000
|
-14
|
|
|
84.000
|
-20
|
|
|
20-30.000
|
?
|
Umumnya
muka air naik
|
|
18.750
|
.-130 - -175
|
Wurm/Wisconsin
Glacial
|
|
16.900
|
-130
|
|
|
14.500
|
-19
|
|
|
14.000
|
?
|
Muka
air naik
|
|
6000
|
|
Mencapai
muka air sekarang dengan osilasi minor setelah +3.5 m (Holocene)
|
Sumber. Chappell and Veeh 1978; Fortuin
and de Smet 1991; Hutchison 1992; Jongsma 1970; Pirazzoli Sources: Chappell and
Veeh 1978; Fortuin and de Smet 1991; Hutchison 1992; Jongsma 1970; Pirazzoli dalam
Monk, dkk (1997)