Wilayah Misool Tenggara masuk ke dalam 7 (tujuh) jejaring Kawasan
Konservasi Laut Daerah (KKLD) di Raja Ampat dengan danau laut sebagai salah
satu nilai konservasinya. Walaupun
demikian ada lokasi-lokasi tertentu yang tetap dibuka untuk ekoturisme. Besar kemungkinan di waktu mendatang danau laut yang terdapat ubur-ubur direkomendasikan sebagai tujuan
wisata mengingat Raja Ampat memperoleh Pendapatan Asli Daerah terbesar berasal
dari sektor pariwisata. Misalnya kondisi
yang terjadi di Danau Ongeim’l Tketau atau lebih dikenal dengan nama Jellyfish
lake (Danau Ubur-ubur) di Palau. Setelah
diangkat ke publik melalui majalah petualang, usaha penyelaman menjadikan danau
laut di Palau sebagai destinasi snorkeling
utama di Pasifik Tropis. Jumlah turis
mencapai 75.000 orang atau 500% kenaikan dari 1986-1997, dan tiga perempat
diantaranya mengunjungi Danau Ubur-ubur (Dawson, 2001).
Beberapa tahun terakhir memang telah terjadi
pekembangan yang sangat tinggi untuk industri pariwisata Raja Ampat. Pada awalnya hanya ada satu diving resort dan satu kali kunjungan live-aboard dive vessel sebelum tahun
2001, rata-rata 300 tamu/tahun kemudian menjadi 8 resort dan lebih dari 40 live-aboard boat, yang melayani 6400
tamu per tahun di tahun 2011 (Mangubai, 2012). Di Misool sendiri telah berdiri
satu resort, namanya Misool Eco Resort dengan 8 unit bangunan dan 18 karyawan.
Resort ini dibangun di antara bukit-bukit karst. Bukan tidak mungkin kondisi
pariwisata yang berbasis ekotourisme ini akan semakin berkembang dikarenakan
ke-eksotisan pulau ini dan dibukanya danau laut ubur-ubur sebagai objek wisata
di P. Misool.
Hasil kajian berupa informasi karakteristik danau akan sangat diperlukan sebagai
basis data dari kondisi ekosistem danau standar. Dengan demikian pihak-pihak pengambil
keputusan memiliki acuan ilmiah untuk strategi konservasi danau ini. Misalnya mengantisipasi pengaruh dari dampak
wisatawan yang masuk (sampah, urine, sun
block) yang mengubah kualitas air. Panas atau hujan yang berlebihan dari
fenomena alam El Nino-La Nina yang menyebabkan hilangnya ubur-ubur. Dengan demikian, dapat dipastikan kapan
danau harus ditutup untuk suatu kurun waktu tertentu atau membatasi kapasitas
pengunjung yang masuk. Hal ini mendesak
dilakukan untuk menjamin keberlanjutan penggunaan dari habitat ini.
Gambar. Pintu masuk ke Danau Ubur-ubur (Ongeim’l Tketau), The Republic of Palau. Foto : gysp (2011)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar