Senin, 11 Januari 2016

Geliat objek wisata baru di Misool, Raja Ampat



Wilayah Misool Tenggara masuk ke dalam 7 (tujuh) jejaring Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di Raja Ampat dengan danau laut sebagai salah satu nilai konservasinya.  Walaupun demikian ada lokasi-lokasi tertentu yang tetap dibuka untuk ekoturisme.  Besar kemungkinan di waktu mendatang danau laut yang terdapat ubur-ubur direkomendasikan sebagai tujuan wisata mengingat Raja Ampat memperoleh Pendapatan Asli Daerah terbesar berasal dari sektor pariwisata.  Misalnya kondisi yang terjadi di Danau Ongeim’l Tketau atau lebih dikenal dengan nama Jellyfish lake (Danau Ubur-ubur) di Palau.  Setelah diangkat ke publik melalui majalah petualang, usaha penyelaman menjadikan danau laut di Palau sebagai destinasi snorkeling utama di Pasifik Tropis.  Jumlah turis mencapai 75.000 orang atau 500% kenaikan dari 1986-1997, dan tiga perempat diantaranya mengunjungi Danau Ubur-ubur (Dawson, 2001).
Beberapa tahun terakhir memang telah terjadi pekembangan yang sangat tinggi untuk industri pariwisata Raja Ampat.  Pada awalnya hanya ada satu diving resort dan satu kali kunjungan live-aboard dive vessel sebelum tahun 2001, rata-rata 300 tamu/tahun kemudian menjadi 8 resort dan lebih dari 40 live-aboard boat, yang melayani 6400 tamu per tahun di tahun 2011 (Mangubai, 2012). Di Misool sendiri telah berdiri satu resort, namanya Misool Eco Resort dengan 8 unit bangunan dan 18 karyawan. Resort ini dibangun di antara bukit-bukit karst. Bukan tidak mungkin kondisi pariwisata yang berbasis ekotourisme ini akan semakin berkembang dikarenakan ke-eksotisan pulau ini dan dibukanya danau laut ubur-ubur sebagai objek wisata di P. Misool.
Hasil kajian berupa informasi karakteristik danau akan sangat diperlukan sebagai basis data dari kondisi ekosistem danau standar.  Dengan demikian pihak-pihak pengambil keputusan memiliki acuan ilmiah untuk strategi konservasi danau ini.  Misalnya mengantisipasi pengaruh dari dampak wisatawan yang masuk (sampah, urine, sun block) yang mengubah kualitas air. Panas atau hujan yang berlebihan dari fenomena alam El Nino-La Nina yang menyebabkan hilangnya ubur-ubur.   Dengan demikian, dapat dipastikan kapan danau harus ditutup untuk suatu kurun waktu tertentu atau membatasi kapasitas pengunjung yang masuk.  Hal ini mendesak dilakukan untuk menjamin keberlanjutan penggunaan dari habitat ini.

 Gambar.  Pintu masuk ke Danau Ubur-ubur (Ongeim’l Tketau), The Republic of Palau.  Foto : gysp (2011)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar